Kamis, 01 Maret 2012

batik lampung





BANDAR LAMPUNG—Pakaian batik bermotif khas Lampung kini tidak lagi melulu dikenakan para aparat pegawai negeri sipil (PNS) setiap Jumat. Batik sudah menjadi pakaian sehari-hari dan tidak lagi mengenal ruang dan waktu. Batik, terutama motif khas Lampung, sudah semakin populer.

Batik bermotif mahkota flora yang dihiasi ornamen siger dan bunga yang dikenakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 10 Maret 2009, seakan membuka mata banyak orang; Lampung punya kreativitas motif batik. Batik bermotif khas Lampung itu adalah kreasi Gatot Kartiko, direktur Kriya Batik Gabovira.

Jauh sebelum itu, pada era 1970-an, adalah Andrian Damiri Sangadjie mulai memelopori motif khas Lampung untuk dijadikan kain batik.

Melalui berbagai percobaan, pelukis yang telah banyak menimba ilmu di Yogyakarta, Solo, Bali, hingga China, Thailand, Jepang, Malabar, dan Turki itu menemukan teknik membatik dengan motif khas Lampung.

Andrian mulai memproduksi batik tulis di Metro pada 9 Mei 1978. Karya batik Lampung-nya telah diakui dan mempunyai hak paten.

Sejarah batik khas Lampung terus bergulir. Pada 6 Maret 1999, dalam acara Pekan Seni Budaya XIV, mantan Gubernur Lampung Oemarsono memperkenalkan kain Sebage sebagai batik khas Lampung. Sebage adalah bagian dari kain khas Lampung yang terdiri dari Tapis, Bidak, Teppal, Selekap, Cindai, Peleppai, dan Nampan.

Kain Sebage kaya corak, motif, dan warna. Kain ini juga mengandung makna simbolis yang menyiratkan nilai budaya Lampung. Kain Sebage terbagi menjadi dua jenis, yakni Sebage Balak (besar) dan Sebage Lunik (kecil).

Seiring sejarah dan upaya yang dilakukan, batik Lampung kini semakin punya pamor. Kreasi sandang Lampung tidak hanya kain tapis (kain tenun ikat), palepai (kain kapal), atau sulam usus yang bersifat religius yang dikerjakan secara turun-temurun oleh masyarakat adat.

Kini batik Lampung mudah diperoleh di berbagai tempat niaga kain di Bandar Lampung. (KIM/U-3)











MENGENAL BATIK & KAIN LAMPUNG


PERKEMBANGAN BATIK
Ditinjau dari sejarahnya, batik berasal dari zaman nenek moyang yang dikenal sejak abad XVII yang ditulis dan dilukis pada daun lontar yang motif/pola batiknya masih berbentuk hewan dan tumbuh-tumbuhan. Namun dalam perkembangannya corak-corak tersebut beralih ke corak abstrak yang menyerupai awan, relief candi dan sebagainya.

Perkembangan batik di Indonesia berkaitan dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan kerajaan sesudahnya, seperti masa-masa kejayaan kerajaan Mataram.

Kesenian batik merupakan kesenian gambar diatas kain untuk pakaian yang menjadi salah satu kebudayaan keluarga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya sebatas dalam keraton saja dan hasilnya digunakan pakaian untuk para raja dan keluarga serta kerabatnya. Oleh karena kerabat keraton banyak yang tinggal diluar keraton, maka kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar keraton.

Dalam perkembangannya, batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dengan keraton dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita untuk mengisi waktu senggangnya. Selanjutnya batik yang tadinya dipakai hanya untuk keluarga keraton, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari oleh para kaum wanita dan kaum pria.

Jadi bisa kita simpulkan bahwa batik di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerajaan Majapahit hingga kerajaan-kerajaan berikutnya dengan corak batik tulis sampai akhir abad ke-XVIII dan memasuki abad ke-XIX baru dikenal adanya batik Cap. Kini Batik telah menjadi pakaian tradisional bangsa & rakyat Indonesia. Jadi kurang tepat kalau ada negara lain yang mengakui batik sebagai salah satu seni budaya mereka.

MENGENAL KAIN SEMBAGI

Kain Sembagi atau juga disebut Chintz (Kain dengan motif bunga) berasal dari pesisir Coromandel India dan kain dari India ini (Sembagi) mulai muncul di Kerajaan Sriwijaya sekitar abad ke-VII. Ornamen hiasan tumbuhan pada kain Sembagi serasi pada masa itu dan mencerminkan tingkat sosial pemakainya. Hal ini tidak salah dikatakan bahwa perdagangan tekstil motif bunga atau Kain Sembagi menyebar di seluruh daerah Sumatera dan Jawa.

Kain Sembagi mulai ditiru oleh pengusaha batik Arab dan Cina kira-kira pada abad ke-XIX khususnya di daerah Cirebon dan Lasem, yang kemudian dikenal sebagai BATIK SEMBAGI.

Batik Sembagi di Jawa dan Sumatera mengalami modifikasi motif. Di Sumatera khususnya Jambi, dihiasi dengan gaya motif yang diambil dari buah-buahan dan warna-warna Batik Sembagi hampir tidak menyentuh daerah asalnya.

Sekitar abad ke-XVII pengusaha Batik Sembagi dari Cirebon dan Lasem memasarkan batik-batik tersebut ke Sumatera, karena Sumatera merupakan pasar yang yang sangat baik bagi Batik Sembagi. Batik Sembagi merupakan jenis batik yang berkembang di Sumatera dan dikagumi banyak orang, khususnya Jambi, Palembang dan Lampung.

MENGENAL KAIN LAMPUNG

Dalam keanekaragaman kebudayaan Indonesia terdapat satu bentuk benda budaya yang disebut "KAIN KHAS LAMPUNG" yang terdiri dari : KAIN TAPIS, BIDAK, SEBAGE, TEPPAL, SELEKAP, CINDAI, PELEPPAI dan NAMPAN yang merupakan hasil musyawarah Marga-Marga di Lampung.

Salah satu Kain Khas Lampung yang juga merupakan barang peniggalan Budaya Lampung dan mempunyai ciri khas tersendiri yang perlu dilestarikan adalah KAIN SEBAGE. Kain Sebage mempunyai beberapa corak dan penggunaannya disesuaikan dengan tingkatan golongan masyarakat atau adat. Bukan saja kaya corak dan warna, tetapi mengandung makna simbolis yang menyiratkan nilai Budaya Lampung.

Perkembangan Batik pada setiap daerah di Indonesia, mendorong Propinsi Lampung untuk memiliki identitas Batik sendiri, maka pada tanggal 6 Maret 1999 merupakan tonggak pengenalan dan sekaligus pemakaian Batik Khas Lampung yang dikenal dengan KAIN SEBAGE yang digelar bersamaan PEKAN SENI BUDAYA LAMPUNG Ke-XIV, yang diresmikan oleh Gubernur saat itu, yaitu Bp. Drs.Oemarsono.

Kalau dilihat dari sejarahnya Kain khas Lampung (Kain Sebage) terdiri dari 12 motif/corak, yaitu Sebage SEKEBAR, SEPENDENDUM, BELANDO, SULUH, KEMBANG MATAHARI, KEMBANG CINOU, KEMBANG MELUR, KEMBANG GUGUR, KEBANG KACO PIRING, KEMBANG GEDIAN, KEMBANG TELENG dan KEMBANG KAWENG.

BATIK KHAS LAMPUNG.

Perkembangan batik di Indonesia pada abad ke-20 sangat pesat sekali, hal ini juga mempengaruhi perkembangan batik di Lampung. Banyak sekali bermunculan corak-corak batik khas lampung, tetapi kurang memuat unsur atau ornamen yang ada di Kain Sebage. Ornamen batik khas Lampung banyak memuat ornamen ragam hias Budaya Lampung, yang didalamnya terdapat juga lambang-lambang daerah seperti Menara Siger dan sebagainya.

BATIK GABOVIRA yang merupakan salah satu perajin/pelaku usaha batik dan sekaligus desainer batik khas Lampung, dimasa mendatang akan melakukan modifikasi motif batik khas Lampung dengan menggabungkan ornamen Kain Sebage dengan ragam hias Budaya Lampung yang juga didalamnya memuat simbol-simbol daerah yang ada di Propinsi Lampung. Hal ini kami lakukan agar Propinsi Lampung tidak ketinggalan dengan Propinsi-Propinsi lainnya di Indonesia khususnya corak-corak batik exclusive dan modern.




Motif Lampung memiliki keunikan tersendiri yang sangat berbeda dengan motif wilayah lain yang ada di indonesia, merunut sejarah Lampung mulai mengenal seni tekstil sejak abad ke 18 bertepatan dengan masuknya pengaruh kebudayaan India yang mulai masuk ke perairan Sumatera sehingga pengaruh motif-motif Budha sangat kental di dalamnya. Motif yang paling terkenal dan menjadi rebutan para kolektor asing adalah motif perahu dan “pohon kehidupan” dua motif ini menjadi sangat khas bagi kebudayaan Lampung dan merupakan trade mark Lampung di mata dunia internasional.

Motif-motif tersebut biasanya dikenal pada kain Tampan, Palepai dan Tatibin. dan para pengrajin yang terkenal diLampung dulunya banyak berasal dari seputar perairan Kalianda dan Krui mereka disebut juga dengan sebutan orang Paminggir, Krui, Abung dan orang pesisir.

Dari karya-karya mereka inilah Kain-kain Lampung beredar ke segala penjuru dunia dan bahkan karya-karya mereka yang dibuat pada abad ke-18 dan abad ke-19 sudah berada di musium-musium international sebagai koleksi budaya seperti di Australia, Amerika, Hawaii dan masih banyak para kolektor dari negara-negara lain yang memiliki situs warisan nenek moyang Lampung ini.

Berangkat dari rasa memiliki dan kecintaan terhadap budaya sendiri, kami berinisiatif mengangkat kembali situs-situs peninggalan motif Lampung yang sudah melegenda tersebut, yang biasanya terdapat pada kain Tapis, Palepai, Tampan maupun Tatibin untuk dituangkan kedalam corak Batik. Bagaimanapun juga Batik maupun Tapis adalah merupakan sisa peninggalan budaya yang diturunkan secara turun temurun selama ratusan tahun yang silam yang patut dilestarikan.

Seiring dengan bergesernya budaya dari budaya lama menuju budaya modern, segi teknik, pen-desain-an maupun proses pembuatannyapun sudah jauh lebih maju dari ratusan tahun yang lalu.

Kami coba mengangkat Batik Lampung dengan mengikuti perkembangan jaman saat ini, dengan tampilan batik yang kontemporer terutama dari pemilihan unsur warna dan padupadan motif Lampung yang kuat sehingga tetap tidak mengurangi esensi dari makna-makna motif yang terkandung dalam batik itu sendiri.

Dengan adanya pembaharuan Batik Lampung Kontemporer rasa kebanggaan terhadap budaya Lampung ini bisa di rasakan bagi pemakainya dan menjadikan ciri khas/identitas tersendiri.

Jika Anda Menyukai Artikel ini Mohon Klik Like di Bawah ini:

Komentar: